Bandar Lampung - Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Malahayati menegaskan bahwa kegiatan pemutaran dan diskusi film Pesta Babi tetap dilaksanakan sebagai bentuk komitmen moral dan intelektual mahasiswa dalam mengawal isu sosial dan lingkungan yang berkembang di tengah masyarakat. Kegiatan ini bukan sekadar agenda menonton bersama, melainkan ruang edukasi, ruang refleksi, dan ruang diskusi kritis bagi mahasiswa sebagai kaum intelektual muda.
Pada awalnya kegiatan direncanakan berlangsung di lingkungan Universitas Malahayati. Namun, karena pada waktu yang sama kampus juga melaksanakan kegiatan santunan anak yatim, maka BEM Universitas Malahayati menghormati agenda tersebut sebagai bentuk penghargaan terhadap nilai kemanusiaan dan sosial yang juga menjadi bagian dari semangat gerakan mahasiswa. Demi menjaga kondusivitas bersama, lokasi kegiatan kemudian dipindahkan ke Rumah Jus di Jalan Pramuka.
Dalam perjalanannya, terjadi pembatalan sepihak terhadap penggunaan tempat tersebut. Situasi ini tentu menjadi dinamika yang harus dihadapi bersama. Akan tetapi, BEM Universitas Malahayati menilai bahwa hambatan semacam ini tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan ruang diskusi publik dan ruang pendidikan kritis mahasiswa. Setelah melalui berbagai koordinasi dan komunikasi, kegiatan akhirnya dipastikan tetap berjalan di Cafe Rumah Kawan.
Presiden Mahasiswa Universitas Malahayati, Muhammad Kamal menegaskan bahwa keberlangsungan kegiatan ini merupakan bentuk tanggung jawab bersama antara mahasiswa dan pihak kampus dalam menjaga ruang intelektual agar tetap hidup di lingkungan akademik. Menurutnya, kampus tidak boleh kehilangan fungsi utamanya sebagai tempat tumbuhnya pemikiran kritis, keberanian menyampaikan gagasan, dan kesadaran sosial mahasiswa terhadap realitas yang terjadi di masyarakat.
“Kegiatan ini harus tetap berjalan. Ini bukan hanya soal pemutaran film, tetapi soal bagaimana mahasiswa tetap memiliki ruang untuk belajar memahami realitas sosial dan lingkungan secara kritis. Mahasiswa tidak boleh dijauhkan dari isu-isu rakyat, isu lingkungan, maupun persoalan kemanusiaan. Justru sebagai kaum muda dan insan akademis, kita memiliki tanggung jawab untuk memahami, mengkaji, dan mengawal persoalan tersebut secara intelektual dan bermartabat,” tegas Muhammad Kamal.
Ia juga menambahkan bahwa dukungan dari pihak kampus terhadap keberlanjutan kegiatan ini menunjukkan adanya komitmen bersama untuk menjaga kebebasan akademik dan ruang diskusi mahasiswa tetap hidup secara sehat dan bertanggung jawab. BEM Universitas Malahayati memandang bahwa kampus dan mahasiswa harus berjalan bersama dalam membangun tradisi intelektual yang kuat, terbuka, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat luas.
“Kampus harus menjadi rumah bagi gagasan dan ruang bagi kesadaran kritis. Ketika mahasiswa membahas isu sosial dan lingkungan melalui ruang diskusi, kajian, maupun film, itu merupakan bagian dari proses pendidikan. Karena itu, kami mengapresiasi dukungan pihak kampus yang tetap mengawal agar kegiatan ini dapat berjalan dengan baik. Ini membuktikan bahwa kampus dan mahasiswa memiliki tanggung jawab yang sama dalam menciptakan ruang pembelajaran yang hidup dan progresif,” lanjutnya.
BEM Universitas Malahayati menilai bahwa kegiatan-kegiatan semacam ini harus terus dijaga keberlangsungannya. Di tengah berbagai persoalan sosial, kerusakan lingkungan, ketimpangan, dan tantangan kehidupan masyarakat hari ini, mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton yang diam. Mahasiswa harus hadir sebagai kelompok intelektual yang mampu membaca keadaan, membangun kesadaran publik, dan mendorong lahirnya kepedulian sosial di tengah generasi muda.
Pemutaran film dan diskusi publik merupakan bagian dari tradisi akademik yang sehat. Melalui ruang-ruang seperti inilah mahasiswa dilatih untuk berpikir terbuka, melihat persoalan secara objektif, serta membangun keberanian moral untuk peduli terhadap keadaan sekitar. Karena itu, segala bentuk upaya yang menghambat ruang edukasi dan ruang diskusi publik seharusnya tidak menjadi penghalang bagi tumbuhnya gerakan intelektual mahasiswa.
BEM Universitas Malahayati menegaskan bahwa kegiatan ini akan tetap berjalan secara tertib, kondusif, dan bertanggung jawab sebagai bentuk komitmen bersama antara mahasiswa dan pihak kampus dalam menjaga nilai-nilai akademik, kebebasan berpikir, serta kepedulian terhadap isu sosial dan lingkungan. Gerakan mahasiswa harus tetap hidup, bukan hanya di ruang demonstrasi, tetapi juga di ruang kajian, diskusi, dan pendidikan publik yang mencerahkan masyarakat.