‎KAMMI Lampung dan PMKRI Lampung Tegaskan Pernyataan Sikap Cipayung Plus dan Komitmen Gerakan Hari Buruh


Aliansi Cipayung Plus yang diwakili oleh KAMMI Lampung dan PMKRI Lampung menggelar aksi pernyataan sikap dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional di depan Gedung DPRD Provinsi Lampung, Jumat (01/05/2026). Aksi tersebut berlangsung dengan pengawalan ketat dari ratusan aparat kepolisian yang berjaga di sekitar lokasi.
‎Dalam pembukaan aksi, Daniel selaku Ketua KAMMI Bandar Lampung menegaskan bahwa Hari Buruh tidak boleh dipandang sebagai seremoni tahunan semata. Ia menyampaikan bahwa momentum ini harus menjadi ruang perjuangan untuk menyuarakan kepentingan kaum buruh yang hingga kini masih sering diabaikan oleh pemerintah dan pemangku kebijakan.
‎“Hari buruh bukan sekadar perayaan simbolik. Ini adalah momentum perlawanan terhadap ketidakadilan yang masih dialami oleh para pekerja. Negara tidak boleh terus menutup mata terhadap realitas yang dihadapi buruh hari ini,” ujar Daniel dalam orasinya di hadapan massa aksi.
‎Selanjutnya, pembacaan tuntutan dilakukan oleh Diva selaku Ketua PMKRI Lampung. Dalam pernyataannya, ia menyampaikan lima tuntutan utama yang menjadi sikap resmi Cipayung Plus. Tuntutan tersebut meliputi pencabutan UU Cipta Kerja dan pembentukan UU Ketenagakerjaan yang berpihak pada buruh, penghapusan sistem kontrak, outsourcing, dan kemitraan palsu, serta penghentian praktik pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.
‎Selain itu, massa aksi juga menuntut adanya jaminan kepastian kerja bagi buruh serta mendorong pemerintah untuk mewujudkan sistem upah layak nasional yang berbasis pada kebutuhan hidup. Mereka juga menegaskan pentingnya menghentikan segala bentuk kriminalisasi dan represi terhadap buruh dan rakyat yang menyuarakan hak-haknya.
‎“Buruh tidak butuh janji, buruh butuh keadilan nyata. Negara harus hadir melindungi, bukan justru melegitimasi sistem yang menindas,” tegas Diva dalam kutipan wawancaranya di sela aksi.
‎Dalam pernyataan penutupnya, Daniel juga menyinggung kondisi Hari Pendidikan Nasional yang dinilai telah menyimpang dari amanat awalnya. Ia mengkritik bahwa pendidikan saat ini cenderung dijadikan alat untuk memenuhi kepentingan elit, bukan sebagai sarana pembebasan dan pemberdayaan masyarakat.
‎Menutup aksi, Daniel mengajak seluruh elemen mahasiswa, pelajar, dan masyarakat untuk menjadikan bulan Mei sebagai bulan pergerakan. Ia menekankan bahwa momentum historis di bulan ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat solidaritas dan menyuarakan kepentingan rakyat secara lebih luas.

Tuntutan Cipayung Plus
1. Cabut UU Cipta Kerja dan wujudkan UU Ketenagakerjaan yang pro-buruh     
‎2. Hapus sistem kontrak, outsourcing, dan kemitraan palsu     
‎3. Hentikan PHK massal dan jamin kepastian kerja     
‎4. Wujudkan upah layak nasional berbasis kebutuhan hidup     
‎5. Hentikan kriminalisasi dan represi terhadap buruh dan rakyat ‎
Lebih baru Lebih lama

Editor : Havid Nurmanto

نموذج الاتصال