Mahasiswa UIN Raden Intan Lampung Gelar Nobar “Pesta Babi”, Soroti Isu Kemanusiaan di Papua

Bandar Lampung – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) dan Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung menggelar nonton bareng (nobar) sekaligus diskusi film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Rabu (29/4/2026) malam.

Kegiatan yang berlangsung di Angkringan Nohan, Kedaton, Bandar Lampung ini turut melibatkan berbagai elemen mahasiswa lintas kampus serta organisasi, termasuk SPARKA RIL dan Ikatan Mahasiswa Papua Lampung (IKMAPAL). Sekitar 50 peserta hadir dalam forum yang mengangkat isu kemanusiaan, keadilan sosial, dan kondisi masyarakat Papua tersebut.

Acara diawali dengan pemutaran film dokumenter yang menampilkan potret kehidupan masyarakat Papua, mulai dari konflik agraria, kerusakan lingkungan, hingga tekanan terhadap masyarakat adat atas nama pembangunan. Film ini kemudian menjadi bahan refleksi bersama dalam sesi diskusi.

Ketua DEMA FDIK UIN Raden Intan Lampung, Muhammad Iman Ibrohim, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap persoalan kemanusiaan yang terjadi di Papua.

 “Papua bukan tanah kosong. Apa yang terjadi di sana adalah luka bersama. Ketidakadilan di mana pun adalah ancaman bagi keadilan di mana pun,” ujarnya dengan tegas dalam forum diskusi.

Senada, Ketua SEMA FDIK, Nopal Sawaludin, mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk tidak menutup mata terhadap realitas yang terjadi.

 “Melalui film ini, kita diingatkan bahwa kemanusiaan sedang diuji. Saudara-saudara kita di Papua tidak sendiri. Kita harus berdiri bersama menuntut keadilan dan kedamaian,” katanya.

Dalam diskusi tersebut, Ketua IKMAPAL, Deserius Magai, menilai film “Pesta Babi” mampu menggambarkan realitas kehidupan masyarakat Papua secara kuat dan menyentuh.

Ia menyebutkan bahwa film tersebut membuka wawasan publik terkait perampasan ruang hidup, eksploitasi sumber daya alam, serta tekanan yang dihadapi masyarakat adat.

“Film ini penting untuk disebarluaskan agar masyarakat memahami situasi yang sebenarnya terjadi di Papua, yang selama ini sering luput dari perhatian nasional,” ujarnya.

Sementara itu, Ahmad Suban Rio dari LBH Dharma Loka Nusantara menekankan pentingnya ruang dialog terbuka dalam membahas persoalan Papua.

Menurutnya, isu Papua tidak hanya berkaitan dengan politik dan pembangunan, tetapi juga menyangkut hak hidup, keadilan, dan martabat manusia.

“Kita perlu mendorong penyelesaian yang berbasis fakta, melalui mekanisme hukum yang adil, transparansi, dan akuntabilitas,” jelasnya.

Diskusi berlangsung hangat dengan berbagai pandangan kritis dari peserta. Mahasiswa didorong untuk memperkuat peran intelektual melalui kajian, advokasi, dan aksi damai dalam menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama sebagai harapan agar keadilan sosial dapat terwujud bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali.
Lebih baru Lebih lama

Editor : Havid Nurmanto

نموذج الاتصال