MENJAGA INTEGRITAS DAN KEPERCAYAAN DITENGAH KRISIS MORALITAS

Ilustrasi 

Oleh : Ahmad Basri S.IP S.H., Ketua K3PP (Kajian Kritis Kebijakan Publik Pembangunan) Lampung

Pukul 09.30 pagi, menjelang siang, kamis, 2 April 2026, saya sudah sampai di rumah sahabat lama. Sebuah rumah yang asri, indah, dan tertata rapi di kawasan sejuk perbukitan daerah Goa Selarong, Bantul, Yogyakarta.

Di kanan-kiri, hamparan hutan jati berdiri teduh, menghadirkan suasana yang bukan hanya sejuk secara fisik, tetapi juga menenangkan batin.

Saya memanggilnya “Mas Ubay”, dan istrinya “Mba Noni”. Keduanya bukan asli Jogja, tetapi telah lama berdiam di kota ini sejak era 1990-an.

Mas Ubay berasal dari Palembang, sempat lama tinggal di Lampung tepatnya di lereng Gunung Sulah, Sukarame. Ia alumni SMKN 2 Bandar Lampung, yang berada tak jauh dari Kampus Universitas Lampung. Persis di belakang rumah orang tua saya. Kampung Baru.

Namun siapa sangka, kini ia begitu “Djawani”. Cara bicaranya pelan, halus, dan penuh tata krama. Nyaris tak tersisa logat Palembang yang melekat. Begitu pula Mba Noni yang berdarah Aceh telah menyatu dengan kultur Jawa.

Berbeda dengan saya yang sesekali masih bergaya  “melung-melung”, khas gaya Lampung yang spontan dan blak-blakan kadang provokatif hehe.

Lebih dari 15 tahun, sahabat saya ini menekuni dunia batik tulis kontemporer. Aktivitas produksinya dilakukan di belakang rumah, sederhana namun penuh dedikasi.

Sebelumnya, ia adalah pengrajin kayu yang melayani pesanan wisatawan asing di Jogja. Latar belakang pendidikannya di bidang bangunan membuatnya akrab dengan seni gambar sebuah modal yang kemudian ia transformasikan ke dalam dunia batik.

Hari ini, karya batiknya telah menjadi bagian dari “branding” sebuah toko batik ternama di Yogyakarta. Sebuah pencapaian yang tidak diraih dengan mudah. Penolakan demi penolakan pernah ia alami. Namun ketekunan dan konsistensi akhirnya membuka jalan.

Ada satu hal yang paling membekas dari pertemuan saya hari itu. Saya sempat menggoda Mas Ubay. Ada tiga motif batik karyanya yang sangat saya sukai.

Saya ingin membelinya langsung darinya. Namun jawabannya sangat singkat dan tegas: tidak. Sorry broo. Berapapun harganya, ia tidak bersedia menjualnya kepada saya.

Alasannya sederhana, namun justru di situlah letak nilai yang hari ini semakin langka: menjaga kepercayaan dan komitmen. Karya batiknya telah menjadi bagian dari lisensi resmi toko yang menaunginya. Ia tidak ingin mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan.

“Kalau Mas Bas mau, silakan beli di toko. Di sanalah tempatnya yang resmi,” ujarnya. Jawaban itu menampar kesadaran saya.

Di tengah dunia yang semakin permisif terhadap pelanggaran etika dan moral, di mana komitmen sering dinegosiasikan dan kepercayaan kerap diperjualbelikan, sikap Mas Ubay justru berdiri tegak sebagai anomali yang menyejukkan.

Ia memilih setia pada komitmen, bahkan kepada sahabatnya sendiri. Dari situlah saya memahami, bahwa kesuksesan yang ia capai hari ini bukan semata karena keterampilan atau kerja keras, tetapi karena integritas. Ia menjaga kejujuran sebagai fondasi, bukan sekadar slogan kosong.

Hari ini, kita hidup di tengah krisis integritas dan moralitas. Amanah seringkali berubah menjadi peluang untuk berkhianat. Kepercayaan dipandang sebagai celah untuk mengambil keuntungan. Dalam dunia politik dan birokrasi, nilai-nilai kejujuran bahkan kerap terdengar seperti retorika kosong.

Namun dari seorang pengrajin batik di sudut Goa Selarong, kita belajar bahwa integritas tidak membutuhkan panggung besar. Ia hidup dalam keputusan-keputusan kecil, dalam kesetiaan pada komitmen, dan dalam keberanian untuk berkata “tidak” pada hal yang melanggar prinsip.

Mas Ubay mungkin bukan pejabat, bukan tokoh besar, bukan pula elit kekuasaan. Tetapi dari dirinya, kita melihat sesuatu yang hari ini justru sulit ditemukan: manusia yang utuh yang menjaga kata dan kepercayaan.

Dan mungkin, di tengah krisis moral yang meluas, kita tidak perlu mencari teladan terlalu jauh. Cukup belajar dari orang-orang sederhana yang masih setia menjaga integritasnya.
Lebih baru Lebih lama

Editor : Havid Nurmanto

نموذج الاتصال