Festival Ogoh-Ogoh di Kecamatan Seputih Raman, Kabupaten Lampung Tengah, memiliki sejarah panjang yang tidak terlepas dari perjuangan, perdebatan, dan semangat generasi muda Hindu dalam merawat budaya. Kegiatan yang kini menjadi tradisi tahunan menjelang Hari Raya Nyepi ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 1999 dan diprakarsai oleh para aktivis Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Pengurus Daerah Lampung, di antaranya I Made Suarjaya, Ketut Sugina, Wayan Eko, Wayan Aryudi, serta sejumlah tokoh muda Hindu lainnya.
Pada awal kemunculannya, gagasan untuk memfestival-kan Ogoh-Ogoh justru menuai banyak penolakan. Sebagian pihak menilai Ogoh-Ogoh merupakan simbol sakral dalam tradisi Hindu sehingga tidak pantas dijadikan festival. Namun para penggagas memandang bahwa di balik nilai religiusnya, Ogoh-Ogoh juga memiliki potensi besar sebagai media ekspresi seni, kreativitas generasi muda, serta sarana memperkuat kebersamaan masyarakat.
Melalui berbagai dialog dan pendekatan kepada tokoh masyarakat, gagasan tersebut akhirnya dapat diwujudkan. Festival Ogoh-Ogoh pertama di Seputih Raman pada tahun 1999 memperebutkan Piala Bimas Hindu Provinsi Lampung, yang saat itu dipimpin oleh Kepala Bidang Bimas Hindu Provinsi Lampung, Made Suma.
Acara pembukaan dilakukan oleh Camat Seputih Raman saat itu, Loekman Hakim, yang kemudian dikenal sebagai Mantan Walikota Metro. Pengamanan kegiatan turut didukung oleh Kapolsek Seputih Raman saat itu, Ipda Faisol, bersama unsur TNI dari Koramil setempat.
Festival perdana tersebut diikuti oleh delapan peserta Ogoh-Ogoh, yaitu:
* Rama Dewa (RD) 1
* Rama Dewa (RD) 2
* Rama Dewa (RD) 4
* Rama Gunawan (RG) – 2 Ogoh-Ogoh
* Rama Murti (RM) 1
* Rukti Harjo (RH) 7
* Rukti Harjo (RH) 4
Dalam festival pertama tersebut, Rukti Harjo (RH) 7 berhasil meraih juara.
Selain menggagas Festival Ogoh-Ogoh di Seputih Raman, salah satu penggagas utama, I Made Suarjaya, juga tercatat sebagai inisiator parade Ogoh-Ogoh pertama tingkat Provinsi Lampung yang dilaksanakan di Lapangan Merah Enggal, Bandar Lampung. Kegiatan tersebut menjadi tonggak penting dalam memperkenalkan tradisi Ogoh-Ogoh kepada masyarakat Lampung secara lebih luas. Kini, I Made Suarjaya juga dikenal sebagai anggota DPRD Provinsi Lampung dari Partai Gerindra.
Seiring berjalannya waktu, festival ini berkembang pesat dan menjadi agenda budaya yang dinanti masyarakat. Tidak hanya masyarakat Bali, masyarakat luas bahkan dari luar daerah turut memadati lokasi festival setiap tahunnya. Antusiasme yang tinggi membuat kegiatan ini kemudian dianggarkan dalam APBD Kabupaten Lampung Tengah, dengan kepanitiaan yang dikoordinasikan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia Kabupaten Lampung Tengah.
Festival Ogoh-Ogoh Seputih Raman bahkan pernah mencapai puncak partisipasi pada tahun 2015 dengan 34 peserta Ogoh-Ogoh, serta selalu dihadiri berbagai pejabat daerah mulai dari Bupati, Wakil Bupati, Kepala Dinas, anggota DPRD hingga pejabat Pemerintah Provinsi.
Beberapa tokoh penting juga pernah menghadiri kegiatan ini, di antaranya Gubernur Lampung periode 2014–2019, M. Ridho Ficardo, serta PYM Suttan Skalabrak yang Dipertuwan ke-23 Brigjen Pol (Purn) Pangeran Edwarsyah Pernong, S.H.
Namun ironisnya, setelah berkembang pesat dan menjadi agenda budaya yang diminati masyarakat luas, sejak tahun 2015 kegiatan ini tidak lagi mendapatkan dukungan anggaran dari Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah. Akibatnya, kepanitiaan tidak lagi dikelola oleh Parisada Kabupaten.
Meski demikian, semangat masyarakat untuk menjaga tradisi tidak surut. Penyelenggaraan festival kemudian dilanjutkan oleh generasi muda melalui Perhimpunan Pemuda Hindu Dharma Indonesia (PERADAH) Lampung Tengah.
Hingga hari ini, festival yang dahulu sempat ditolak tersebut justru tetap hidup dan terus dilaksanakan oleh masyarakat, bahkan menjadi momentum yang dinanti setiap menjelang Hari Raya Nyepi.
Tahun ini, Festival Ogoh-Ogoh Kecamatan Seputih Raman kembali digelar pada Minggu, 8 Maret 2026.
Sejarah Festival Ogoh-Ogoh Seputih Raman menjadi bukti bahwa tradisi besar sering lahir dari keberanian melawan keraguan, serta dari komitmen masyarakat dalam menjaga nilai seni, budaya, dan kebersamaan lintas generasi.
Tags
Budaya