|
Foto Tim sebelum Keberangkatan / Persiapan
Survei |
Pesawaran, Lampung — 5 Agustus 2026. Institut Teknologi Sumatera (ITERA) melalui tim pelaksana kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) melaksanakan survei awal batimetri menggunakan teknologi SONAR di perairan Teluk Ratai, Desa Batu Menyan, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Kegiatan ini merupakan bagian dari program “Pemberdayaan Masyarakat Desa Batu Menyan melalui Penerapan Teknologi SONAR untuk Mendukung Keselamatan dan Efisiensi Transportasi Wisata Bahari.”
Survei dilaksanakan pada 3–5 Agustus 2026 dengan melibatkan dosen dan mahasiswa. Tim dipimpin oleh Ulil Amri, S.Pi., M.Si dan Restu Setia Kurniadi sebagai koordinator survei serta anggota Zulfikar, Caroline Salsa Laudia, Christian Revel, Derifani Irfandi M., Aldo Dzaky Arrohman., dan Alfredo Naibaho. Tim Dosen beranggotakan Dr. Satriyo Panalaran, M.Eng., Firdaus, M.T., M Fathkrurrozi, M.T., dan Suciana, M.T.
Pemetaan untuk Menjawab Kebutuhan Informasi Dasar Perairan
Kegiatan survei dilakukan karena informasi mengenai karakteristik kedalaman perairan merupakan salah satu komponen penting dalam mendukung keselamatan aktivitas transportasi laut, khususnya pada kawasan yang berkembang sebagai tujuan wisata bahari. Bagi masyarakat Desa Batu Menyan, informasi kedalaman tidak hanya berkaitan dengan aktivitas nelayan, tetapi juga dapat menjadi dasar dalam memahami kondisi perairan yang digunakan oleh perahu wisata dan masyarakat.
Melalui teknologi SONAR, tim berupaya membangun basis data spasial kedalaman perairan yang dapat digunakan untuk mengenali pola dasar perairan, mengidentifikasi perubahan kedalaman, serta mendukung perencanaan jalur transportasi wisata bahari yang lebih aman dan efisien.
Dengan demikian, pemetaan ini tidak diarahkan semata-mata untuk kepentingan navigasi nelayan, tetapi juga memiliki nilai strategis untuk pengembangan wisata pesisir dan perencanaan pengelolaan kawasan perairan Teluk Ratai, Desa Batu Menyan Khususnya.
Sebelumnya, Informasi Kedalaman Belum Dibangun dari Survei Lapangan yang Sistematis
Salah satu keluaran penting kegiatan ini adalah tersedianya data kedalaman hasil pemeruman langsung di lapangan. Survei dilakukan menggunakan Garmin GPSMAP/Fishfinder 585 Plus sebagai instrumen utama pemeruman dengan dukungan positioning GPS/GLONASS/BeiDou internal. Data posisi kemudian digunakan untuk membangun informasi spasial kedalaman.
Data yang dihasilkan melalui kegiatan PkM ini merupakan basis informasi awal untuk pengembangan peta batimetri, bukan pengganti peta navigasi resmi yang diterbitkan oleh lembaga berwenang.
Menjangkau Area 18 Kilometer Persegi
Survei batimetri mencakup wilayah sekitar 18 km² di Teluk Ratai, Desa Batu Menyan. Tim menempuh total lintasan pemeruman sekitar 97,4 km, yang terdiri atas 25 lintasan utama (main line) dan 11 lintasan silang (cross line).
Jarak rata-rata antar-lintasan utama sekitar 200 meter, sedangkan jarak rata-rata antar-lintasan silang sekitar 300 meter. Panjang lintasan terpendek sekitar 1,5 km, sedangkan lintasan terpanjang mencapai sekitar 6 km.
Menghasilkan Jutaan Titik Data Kedalaman
Hasil pemeruman menunjukkan rentang kedalaman terukur antara 0,5 meter hingga 25,1 meter, dengan kedalaman rata-rata sekitar 20,51 meter. Data direkam dengan interval sekitar 3 detik, menggunakan sistem koordinat Degree-Minutes-Seconds/UTM, datum horizontal WGS 1984, serta reduksi kedalaman berbasis GEOID EGM 2008. Resolusi data yang dicatat dalam log adalah 0,1 meter.
Secara keseluruhan, proses akuisisi menghasilkan sekitar 21.468.000 titik sounding. Data tersebut menjadi bahan penting untuk proses pengolahan lebih lanjut dalam menghasilkan representasi kondisi dasar perairan Desa Batu Menyan.
Karakteristik Dasar Perairan Mulai Teridentifikasi
Data awal menunjukkan adanya variasi kedalaman yang cukup besar, mulai dari perairan sangat dangkal sekitar 0,5 meter hingga lebih dari 25 meter. Variasi tersebut menunjukkan bahwa dasar perairan di wilayah survei tidak bersifat seragam.
Tim juga mencatat adanya indikasi cekungan sebagai salah satu karakteristik morfologi dasar perairan. Selain karakteristik morfologi, selama kegiatan lapangan tim turut menjumpai biota laut, antara lain ubur-ubur dan penyu.
Identifikasi objek atau potensi bahaya navigasi secara spesifik masih memerlukan proses pengolahan dan interpretasi data lebih lanjut. Karena itu, hasil survei ini belum dapat digunakan untuk menyatakan suatu lokasi sebagai bahaya navigasi resmi.
Kondisi Lapangan Mendukung Pelaksanaan Survei
Secara umum, kondisi lapangan selama survei relatif mendukung proses pemeruman. Cuaca berkisar antara cerah hingga berawan, angin umumnya lemah hingga sedang, sedangkan kondisi gelombang berada pada kategori tenang hingga sedang berdasarkan catatan lapangan.
Pada salah satu periode pengamatan, kondisi gelombang meningkat dan menyebabkan kapal mengalami sedikit pergerakan. Tim mengantisipasinya dengan mengurangi kecepatan kapal agar kualitas pengambilan data tetap terjaga. Lalu lintas perahu di sekitar jalur survei juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan sehingga tim melakukan penyesuaian lintasan.
Log survei mencatat bahwa kendala yang terjadi tidak mempengaruhi proses pemeruman secara signifikan dan data yang diperoleh tetap baik.
Pasang Surut Menjadi Bagian Penting dalam Pengamatan
Selain pemeruman, tim melakukan pengamatan muka air menggunakan palm pasut dengan interval pencatatan setiap 15 menit. Selama observasi, muka air tertinggi yang tercatat dalam log adalah sekitar 105 cm, sedangkan muka air terendah sekitar 0,5 m, dengan rentang pasut yang dicatat sekitar 100 cm.
Informasi pasang surut ini penting karena kedalaman hasil pemeruman perlu dipahami dalam konteks perubahan muka air laut. Untuk informasi pasang surut umum, tim juga mencatat rujukan BMKG Maritim : pasang naik pertama sekitar pukul 01.05 WIB, surut pertama 07.17 WIB, pasang naik kedua 13.06 WIB, dan surut kedua 19.44 WIB.
Dari Data SONAR Menuju Jalur Wisata Bahari yang Lebih Aman
awal bagi masyarakat dan pemerintah desa. Data kedalaman dapat membantu memberikan gambaran mengenai bagian perairan yang relatif dangkal, lebih dalam, serta perubahan morfologi dasar perairan.
Dalam konteks transportasi wisata, informasi tersebut dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam:
• perencanaan jalur pergerakan perahu wisata
• identifikasi awal kawasan yang membutuhkan perhatian lebih dalam navigasi
• pengembangan informasi wisata bahari berbasis spasial
• perencanaan fasilitas pendukung transportasi wisata
• pengembangan sistem informasi perairan Desa Batu Menyan pada tahap berikutnya
Namun, hasil tersebut tetap perlu melalui pengolahan, validasi, dan interpretasi lebih lanjut sebelum digunakan sebagai dasar operasional navigasi.
Mendukung Perencanaan Kawasan Pesisir
Dalam jangka menengah, basis data batimetri yang dihasilkan dapat menjadi salah satu sumber data pendukung bagi pemerintah desa dan instansi terkait dalam perencanaan kawasan pesisir dan wisata bahari.
Integrasi dengan dokumen tata ruang seperti RTRW maupun rencana zonasi wilayah pesisir perlu dilakukan melalui mekanisme kelembagaan dan koordinasi dengan pemerintah daerah serta instansi yang memiliki kewenangan. Data hasil PkM dapat diposisikan sebagai data teknis pendukung, bukan sebagai dokumen tata ruang itu sendiri.
Dengan pendekatan tersebut, hasil kegiatan diharapkan tidak berhenti pada pembuatan peta, tetapi dapat menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan berbasis data dalam pengembangan kawasan pesisir Desa Batu Menyan.
Menghubungkan Teknologi, Masyarakat, dan Wisata Bahari
Kegiatan survei ini juga memperlihatkan bahwa teknologi hidroakustik dapat diperkenalkan secara lebih dekat kepada masyarakat. Keterlibatan mahasiswa dan masyarakat dalam kegiatan lapangan menjadi bagian penting dari pendekatan PkM, karena tujuan utama program bukan hanya menghasilkan data, tetapi juga membangun pemahaman mengenai bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menjawab persoalan nyata di wilayah pesisir.
Bagi ITERA, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghubungkan kompetensi akademik, teknologi survei kelautan, kebutuhan masyarakat, dan pengembangan potensi wisata bahari.
Tahap Awal Menuju Peta Batimetri dan Informasi Wisata Bahari
Survei 3–5 Agustus 2026 menghasilkan dataset awal yang cukup besar, mencakup sekitar 18 km² wilayah perairan, 97,4 km lintasan pemeruman, 25 main line, 11 cross line, serta jutaan titik pengukuran kedalaman. Dataset tersebut selanjutnya akan diproses untuk menghasilkan informasi batimetri yang lebih komunikatif dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat maupun pemangku kepentingan.
Produk akhir yang direncanakan adalah peta batimetri dan informasi pendukung navigasi wisata, yang diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen dalam meningkatkan pemahaman terhadap karakteristik perairan Desa Batu Menyan.
Bagi masyarakat, manfaat paling penting dari kegiatan ini bukan sekadar mengetahui angka kedalaman laut, tetapi memperoleh informasi berbasis data yang dapat mendukung keselamatan, efisiensi, dan pengembangan wisata bahari secara berkelanjutan.
Tags
Inspiratif