Pemberdayaan Masyarakat Melalui Kolaborasi Inovatif : Pengembangan Inovasi Pangan, Lingkungan, Infrastruktur danKapasitas Sumber Daya Manusia di Desa Pulau Legundi

 
Pesawaran, Lampung – Mahasiswa KKN Tematik 32 Institut Teknologi Sumatera (ITERA) menghadirkan berbagai program inovatif di Desa Pulau Legundi sebagai upaya mengoptimalkan potensi sumber daya lokal sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan masyarakat. Program yang dijalankan meliputi inovasi produk olahan perikanan, pengelolaan sampah ramah lingkungan, hingga pemetaan desa berbasis potensi dan risiko bencana.

Inovasi Nugget Ikan: Tingkatkan Nilai Tambah Hasil Laut

Sebagai desa pesisir yang kaya akan hasil laut, Pulau Legundi memiliki potensi besar di sektor perikanan. Melihat peluang tersebut, mahasiswa KKN menghadirkan pelatihan pembuatan nugget ikan sebagai produk olahan bernilai tambah.

Kegiatan ini melibatkan ibu-ibu Desa Pulau Legundi sebagai peserta utama. Mahasiswa mendemonstrasikan proses pembuatan nugget ikan secara bertahap, mulai dari pemilihan ikan segar, pengolahan adonan, pencetakan, hingga proses pemasakan.

Tak hanya praktik produksi, peserta juga mendapatkan edukasi tentang keamanan pangan dan strategi pemasaran. Materi yang diberikan mencakup desain kemasan produk, tata cara pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, izin edar BPOM, hingga pemanfaatan media sosial dan platform e-commerce untuk memperluas jangkauan pasar.

Melalui program ini, mahasiswa berharap dapat mendorong terbentuknya UMKM lokal yang memproduksi nugget ikan secara berkelanjutan, sehingga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat identitas produk unggulan desa.

Rocket Stove: Solusi Pembakaran Sampah Lebih Ramah Lingkungan  

 
Permasalahan pembakaran sampah terbuka yang masih kerap dilakukan masyarakat menjadi perhatian tim KKN. Sebagai solusi, mahasiswa memperkenalkan inovasi Rocket Stove, yaitu tungku pembakaran yang dirancang untuk menghasilkan proses pembakaran lebih efisien dan minim asap.

Program ini dilaksanakan bersama masyarakat desa dengan metode demonstrasi langsung. Mahasiswa memperagakan tahapan pembuatan Rocket Stove, mulai dari penyusunan ruang bakar, pemasangan cerobong, hingga pelapisan tungku agar tahan panas dan lebih awet digunakan.

Selain itu, masyarakat juga diberikan pelatihan penggunaan yang tepat agar proses pembakaran berlangsung lebih terkendali dan aman. Dengan teknologi sederhana ini, diharapkan pembakaran sampah tidak lagi mencemari lingkungan secara berlebihan.

Pengolahan Sampah Berkelanjutan Berbasis Rumah Tangg

 
Tidak berhenti pada inovasi pembakaran, mahasiswa KKN juga menginisiasi program pengolahan sampah berkelanjutan berbasis rumah tangga. Program ini menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya.

Sampah dipisahkan menjadi dua kategori, yakni organik dan anorganik. Sampah anorganik dikelola menggunakan Rocket Stove sebagai alternatif pembakaran konvensional, sementara sampah organik diolah menjadi pupuk kompos menggunakan metode Takakura yang mudah diterapkan di tingkat rumah tangga.

Mahasiswa memberikan demonstrasi langsung terkait teknik pemilahan, pengoperasian Rocket Stove, serta proses pembuatan kompos. Edukasi juga diberikan mengenai dampak positif pengelolaan sampah terhadap kesehatan lingkungan, pengurangan pencemaran, serta pemanfaatan kompos untuk kebutuhan pertanian dan pekarangan rumah.

Program ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan serta menciptakan sistem pengelolaan sampah yang mandiri dan berkelanjutan.

Pemetaan Desa: Kenali Wilayah, Potensi, dan Risiko Bencana


Sebagai bentuk dukungan terhadap pembangunan desa yang terarah, mahasiswa KKN juga melaksanakan program pemetaan Desa Pulau Legundi. Program ini menghasilkan tiga jenis peta utama, yakni peta administratif, peta rawan bencana, dan peta wisata.

Dalam prosesnya, mahasiswa melakukan observasi lapangan, berdiskusi dengan perangkat desa, serta mengolah data menjadi peta informatif yang mudah dipahami. Peta administratif membantu mengenali batas dan pembagian wilayah desa, peta rawan bencana meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap risiko, sementara peta wisata menampilkan potensi destinasi yang dapat dikembangkan.

Hasil pemetaan tersebut diserahkan kepada pemerintah desa dan disosialisasikan kepada masyarakat agar dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan pembangunan serta pengembangan potensi lokal.

Melalui rangkaian program ini, mahasiswa KKN Tematik 32 ITERA tidak hanya menghadirkan inovasi teknologi sederhana, tetapi juga mendorong pemberdayaan masyarakat dan pembangunan desa berbasis potensi lokal. Sinergi antara mahasiswa dan warga menjadi langkah nyata menuju Desa Pulau Legundi yang lebih mandiri, produktif, dan berwawasan lingkungan.
Lebih baru Lebih lama

Editor : Havid Nurmanto

نموذج الاتصال