Inovasi Berkelanjutan KKN-PPM ITERA Kelompok 100: Pengurangan Polusi Asap melalui Rocket Stove dan Pengolahan Limbah Tempe menjadi Pupuk Organik Cair di Banjar Masin

Dosen Pembimbing Lapangan : Weni Ayu Puja Kesuma, S.Si.,M.Si.

Dari Tumpukan Sampah Menuju Udara Bersih : Aksi Nyata KKN PPM Kelompok 100 Melalui Inovasi Rocket Stove Minim Asap di Desa Banjar Masin, Kec. Kota Agung Barat, Tanggamus

Tanggamus, 02 Februari 2026 – Program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran dan Pengabdian Masyarakat (KKN PPM) periode ke-16 dari Institut Teknologi Sumatera (ITERA) hadir membawa angin segar di Desa Banjar Masin, Kecamatan Kota Agung Barat, Kabupaten Tanggamus. Mahasiswa KKN PPM Kelompok 100 tak hanya berinteraksi akrab dengan seluruh warga desa, mulai dari anak-anak, ibu rumah tangga, pemuda hingga lansia, tapi juga menghadirkan inovasi brilian: pembangunan rocket stove untuk mengurai masalah polusi asap pekat dari pembakaran sampah terbuka yang selama ini mengancam kesehatan pernapasan dan kebersihan lingkungan desa.

Pembangunan rocket stove guna mengurangi penumpukan sampah di lingkungan Balai Desa Banjar Masin.

Salah satu program unggulan yang dilaksanakan oleh KKN PPM Kelompok 100 adalah Pembangunan Rocket Stove untuk Mengurangi Asap Pembakaran Sampah. Rocket stove merupakan tungku pembakaran efisien berbasis teknologi tepat guna yang dirancang untuk membakar sampah rumah tangga dengan suhu tinggi, minim asap, dan residu abu rendah. Inovasi ini hadir untuk mengatasi masalah polusi asap dari pembakaran terbuka yang selama ini sering dilakukan masyarakat desa dan berdampak negatif terhadap kesehatan serta lingkungan sekitar.

Kegiatan ini difokuskan kepada masyarakat Desa Banjar Masin, dengan memberikan edukasi mengenai dampak negatif asap pembakaran sampah terhadap kesehatan pernapasan dan lingkungan. Para peserta tidak hanya diberikan pemahaman teoritis, tetapi juga diperkenalkan secara langsung dengan proses pembuatan rocket stove menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, seperti semen, batu bata tahan api, besi jeruji untuk aliran udara, serta cerobong vertikal untuk memastikan pembakaran berlangsung sempurna.

Struktur rocket stove dirancang dengan ruang pembakaran horizontal di bagian bawah dan pipa vertikal untuk menciptakan aliran udara (draft) yang optimal. Desain inovatif ini memungkinkan proses pembakaran sampah organik maupun non-organik berlangsung lebih sempurna dengan tingkat efisiensi dua kali lipat dibandingkan metode pembakaran konvensional. Hasilnya, produksi asap dapat ditekan secara signifikan sehingga risiko gangguan kesehatan akibat polusi udara dapat diminimalkan.

Selain berkontribusi dalam pengurangan polusi asap rumah tangga, program rocket stove ini juga membuka peluang pemanfaatan berkelanjutan untuk pengelolaan sampah desa. Produk inovasi ini memiliki potensi untuk direplikasi secara mandiri oleh warga mengingat bahan baku pembuatannya yang ekonomis dan mudah diperoleh di lingkungan sekitar. Dengan demikian, program ini tidak hanya mendukung kebersihan lingkungan, tetapi juga mendorong kemandirian masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga secara ramah lingkungan.

Melalui pelaksanaan program ini, Mahasiswa KKN PPM Kelompok 100 ITERA berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Desa Banjar Masin terhadap pentingnya pengelolaan sampah yang ramah lingkungan serta mendorong kemandirian desa dalam mengadopsi teknologi sederhana secara berkelanjutan. Keberlanjutan program ini diharapkan dapat mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan bebas dari polusi asap bagi seluruh warga Desa Banjar Masin.

Atasi Pencemaran Sungai, Mahasiswa KKN ITERA PPM 100 Ajak Warga Banjar Masin Olah Limbah Tempe Jadi Pupuk Organik Cair

Sosialisasi Pembuatan Pupuk Organik Cair dari Bahan Dasar Limbah Tempe

Tanggamus, 02 Februari 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran dan Pengabdian Masyarakat (KKN PPM) Institut Teknologi Sumatera (ITERA) Kelompok 100 menghadirkan solusi inovatif di Desa Banjar Masin, Kecamatan Kota Agung Barat, Kabupaten Tanggamus, melalui Program Pengolahan Limbah Air Tempe Menjadi Pupuk Organik Cair (POC). Program ini dilatarbelakangi oleh dua permasalahan utama yang dihadapi masyarakat, yaitu pencemaran lingkungan akibat limbah industri rumahan tempe serta tingginya biaya yang dikeluarkan untuk membeli pupuk kimia yang membebani para petani setempat.

Desa Banjar Masin merupakan salah satu sentra produksi tempe skala rumahan yang dikelola masyarakat lokal, yang setiap harinya menghasilkan limbah cair dalam jumlah signifikan yang selama bertahun-tahun langsung dibuang ke sungai tanpa pengolahan. Akibatnya, sungai mengalami pencemaran berupa air keruh, bau tidak sedap, dan keluhan warga mengenai rasa gatal pada kulit apabila terkena air sungai. Di sisi lain, mayoritas penduduk Desa Banjar Masin bekerja sebagai petani yang setiap musim tanam harus mengeluarkan biaya besar untuk membeli pupuk kimia, sementara harga pupuk yang terus meningkat menjadi beban ekonomi tersendiri.

Menyikapi hal tersebut, Mahasiswa KKN PPM ITERA Kelompok 100 memberikan solusi melalui program kerja yakni pengolahan limbah cair tempe menjadi pupuk organik cair. Limbah tempe yang selama ini dianggap sebagai masalah ternyata mengandung nutrisi seperti protein dan karbohidrat yang bermanfaat bagi kesuburan tanah. Melalui proses fermentasi sederhana menggunakan bahan-bahan mudah didapat, limbah tersebut dapat diolah menjadi pupuk berkualitas. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pupuk organik cair ini meliputi limbah tempe (air bekas rebusan kedelai), gula merah sebagai sumber energi bagi mikroorganisme, ajinomoto, serta kecap manis.

Kegiatan sosialisasi dan pelatihan dilaksanakan di Balai Desa Banjar Masin dan dihadiri warga, khususnya ibu rumah tangga dan para petani. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memberikan penjelasan mengenai dampak negatif pembuangan limbah sembarangan serta manfaat pupuk organik, kemudian dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan pupuk. Limbah tempe yang digunakan dalam praktik diperoleh dari unit usaha tempe lokal yang selama ini menjadi sumber pencemaran. Warga diajarkan cara mencampur limbah tempe dengan gula merah yang telah dilarutkan, bioaktivator, kecap manis, dan ajinomoto, yang kemudian difermentasi selama 5 hingga 7 hari hingga berubah menjadi pupuk organik cair berwarna kecoklatan yang siap digunakan.

Sebagai upaya keberlanjutan program, mahasiswa juga mencetak banner informatif yang dipasang di lokasi strategis desa. Banner tersebut memuat panduan lengkap mengenai cara pembuatan pupuk organik cair dari limbah tempe serta dosis penggunaan yang tepat untuk berbagai jenis tanaman. Dengan adanya banner ini, masyarakat dapat dengan mudah mengingat dan mempraktikkan kembali proses pembuatan pupuk secara mandiri meskipun program KKN telah berakhir.

Program ini memberikan empat manfaat utama bagi masyarakat, yaitu perbaikan kualitas lingkungan karena limbah tidak lagi dibuang ke sungai, efisiensi biaya pertanian karena petani dapat memproduksi pupuk mandiri, peningkatan kemandirian masyarakat dalam memproduksi pupuk organik, serta peningkatan kesadaran lingkungan bahwa limbah dapat dikelola menjadi sumber daya bermanfaat.

Program ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa dapat berperan sebagai agen perubahan yang menghadirkan solusi atas permasalahan lingkungan dan ekonomi masyarakat. Mahasiswa KKN PPM ITERA Kelompok 100 berharap inovasi pengolahan limbah tempe menjadi pupuk organik cair dapat terus dilanjutkan secara mandiri oleh warga Desa Banjar Masin, demi terwujudnya lingkungan yang bersih, sehat, dan pertanian yang produktif serta berkelanjutan.

Lebih baru Lebih lama

Editor : Havid Nurmanto

نموذج الاتصال