Banjir Sumatra Diselimuti Duka, Ribuan Gelondongan Kayu Terbawa Arus Picu Sorotan soal Kerusakan Hutan


Sumatra, 30 November 2025 — Duka mendalam menyelimuti masyarakat di sejumlah wilayah Sumatra setelah banjir bandang meluluhlantakkan permukiman, merusak ratusan fasilitas umum, dan memaksa ribuan warga mengungsi. Di tengah evakuasi dan pencarian korban, perhatian publik tertuju pada fenomena viral ribuan kayu gelondongan besar yang terbawa arus hingga ke sungai dan pesisir pantai.

Video dan foto yang beredar memperlihatkan gelondongan kayu berukuran besar menumpuk di badan sungai, jalan raya, hingga kawasan pantai setelah banjir surut. Publik pun mempertanyakan apakah kayu tersebut hanyut akibat longsor alami atau berasal dari kegiatan penebangan yang merusak kawasan hulu.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menyatakan pemerintah sedang melakukan penyelidikan mendalam. “Kayu tersebut teridentifikasi berasal dari kawasan hak atas tanah (PHAT) di Areal Penggunaan Lain (APL). Kami terus menyelidiki apakah kayu berasal dari penebangan atau tumbang akibat longsor,” ujarnya.

Organisasi lingkungan menyampaikan pandangan kritis atas fenomena tersebut. Perwakilan WALHI Sumatra, Eko Syaputra, menilai banjir besar yang membawa kayu dalam jumlah masif merupakan sinyal kuat bahwa kawasan hulu mengalami kerusakan. “Ketika hutan tidak mampu lagi menahan air, banjir dan longsor adalah konsekuensi. Bencana ini tidak hanya disebabkan curah hujan, tetapi tata kelola hutan yang perlu dievaluasi,” tegasnya.

Dari parlemen, anggota DPR RI Daniel Johan mendesak pemerintah membentuk tim investigasi independen agar penyebab bencana dapat diungkap transparan. “Masyarakat berhak mendapat kejelasan. Bila ada penyalahgunaan izin atau praktik penebangan yang mengancam ekosistem, harus ada penindakan tegas,” katanya.

Sementara itu, warga di daerah terdampak berharap pemerintah tidak hanya fokus pada penanganan darurat, tetapi juga pada pemulihan lingkungan jangka panjang. “Kami ingin bencana ini tidak terulang. Yang kami butuhkan bukan hanya bantuan, tapi jaminan keselamatan ke depan,” ujar Zainal, warga Tapanuli Selatan, salah satu daerah yang terendam banjir.

Pemerintah masih melakukan pendataan kerusakan, termasuk jumlah korban, dampak ekonomi, dan kebutuhan relokasi. Masyarakat diminta tetap waspada mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi berlangsung beberapa hari ke depan
Lebih baru Lebih lama

Editor : Havid Nurmanto

نموذج الاتصال